Selangkah Ke Aras Penghidupan
Di keheningan malam itu, agak sukar mata ini dikatup. Entah kenapa jiwa mudanya tidak keruan. Serba tak kena. Rempuhan demi rempuhan panca pilihan yang harus dilaksana dalam waktu yang singkat seakan mendesaknya untuk mematangkan akal dan pertimbangan. Seraya siang tadi dia menerima perkhabaran yang bakal menetukan langkahnya dalam penghidupan. Tatkala berkunjung tiba di penginapan, satu terjahan khabar menerpanya kembali. Untuk tika itu si dia berbagi kehendak. Dirinya yang satu kepingin khabar terdahulu namun, dirinya yang separa lagi merintih khabar yang kemudian. Si dia mencoba untuk memilih yang terbaik. Jenuh sudah benaknya mencongak-congak perhitungan yang bakal diambil. Si dia segan kecundang tatkala tersalah pilih. Namun, si dia akui bahwa mereka-mereka yang bangkit sesudah jatuh; lebih tegar dari kalangan yang tiada upaya untuk bangun. Sudahnya, jiwanya nekad untuk mencoba keduanya. Natijahnya, andai tewas pertama; kedua mampu menampung kekecewaan…..
